Aliran-aliran dalam berkembangnya teologi

Aliran-aliran dalam berkembangnya teologi

Aliran-aliran dalam berkembangnya teologi

Aliran-aliran dalam berkembangnya teologi
Aliran-aliran dalam berkembangnya teologi

1. Khawarij

Kata khawarij adalah golongan yang memisahkan diri dari kelompok ‘Ali ibn Abi al-Thalib sesudah terjadinya tahkim pada waktu perang siffin. Dalam perkembangannya, aliran ini terpecah menjadi beberapa sekte. Setiap dekte hampir sepakat mengatakan bahwa orang yang berbeda pendapat dengan mereka adalah kafir.
Diantara sekte Khawarij yang terkenal adalah al-Muhakkim. Menurut sekte ini, hukum yang benar hanyalah hukum allah. Maka dari itu, mereka berpendapat bahwa ‘Ali, Mu’awiyah, ‘Amr ibn ‘Ash, dan Abu Musa al-Asy’ari telah berbuat salah karena telah membuat keputusan diluar ketentuan alquran. Golongan ini sangat gencar mempertahankan keyakinan mereka sehinga membunuh siapa saja yang memjadi penentangnya. Mereka melakukan pembunuhan sampai mereka sendiri terbunuh pula.
Selain itu, terdapat sekte al-Azariyah yang dipelopori oleh Nafi’ ibn Azraq. Sekte ini adalah yang paling besar diantara sekte yang ada. Keadaan ini terbukti pada waktu terjadi perang antara ‘Abdullah ibn Zubayr dengan orang-orang Mu’awiyah. Karena banyaknya pengikut sekte ini, ‘Abdullah ibn Zubayr tepaksa menggunakan tentara sampai puluhan ribu orang. Akhirnya, semua pengikut al-Azariqah yang ditemukan dibunuh.

Selain itu, dalam khawarij tedapat pula sekte al-Najdah. Pada mulanya sekte ini termasuk sekte al-Azariqah. Lalu, kelompok ini memisahkan diri dari sekte al-Azariqah atas inisiatif Abu Fudayl dan pengikutnya kerena perbedaan pendapat tetang hokum membunuh anak dan istri orang musyik. Sekte al-Najdah inilah yang paling moderat kerena menurut mereka membunuh anak dan istri orang kafir tidak dibolehkan.
Sekte lain yang moderat pula adalah al-‘Ajaridah. Menurut sekte ini, hijrah kewilayah kaum khawarij bukan kewajiban seperti yang dikatakan Nafi’, tetapi adalah kebajikan dan harta musuh tidak semuanya boleh diambil sebagai rampasan. Yanh boleh dirampas hanyalah harta musuh yang sudah mati.

2. Murjiah

Kata Murjiah diambil dari kata arja’a yang berarti menunda, melambatkan, dan mengemudiankan. Menurut Al-Syahrastani, kata arja’a juga berarti mengharapkan . jadi murjiah bisa berarti aliran yang mengemudiankan amal dari iman dan ada juga yang menunda persoalan dosa itu sampai hari kiaat. Bisa pula Murjiah berarti suatu mazhab kalam yang mengharapkan agar dosa-dosa itu diampuni dan ditukar oleh Tuhan dengan kebaikan.
Seperti Khawarij, Murjiah juga muncul karena persoalan politik. Seteleh peristiwa tahkim, pengikut ‘Ali tepecah menjadi dua golongan Syi’ah yang kuat mendukung ‘Ali. Meski bermusuhan, kedua golongan ini sama-sama menentang kekuasaan Bani Umayyah. Namun, jika khawarij menentang Mu’awiyah karena dia dan pengikutnya telah menyimpan dari hokum allah, Syi’ah menentang Mu’awiyah. Karena telah merampas kekuasaan ‘Ali.
Dalam suasana pertentangan ini, lahirlah Murjiah sebagai golongan yang ingin bersikap netral dan tidak mau ikut dalam kafir-mengkafirkan seperti yang dilakukan kelompok yang bertentangan itu. Bagi Murjiah, kelompok ‘Ali, dan Mu’awiyah masih dapat dipercaya. Oleh sebab itu, golongan ini tidak mau mengeluarkan pendapat tentang siapa yang salah atau yang benar dan menunda penyelesainnya pada hari kiammat.Golongan Murjiah dibagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu golongan moderat dan ekstrim

3. Jabbariyah

Kata Jabbariyah berasal dari jabara yang berarti memaksa. Ali Mudhafir mengartikan jabbara dengan alzamahu fi fi’lih, berkewajiban dalam pekerjaan. Bila dilihat kedudukan sebagai ciptaan Tuhan orang itu tidak mempunyai wewenang apa-apa. Ia berbuat hanya mengikuti perintah Tuhan. Inilah yang disebut sikap pasrah(jabr).
Dalam sejarah, aliran Jabbariyah dimunculkan pertama sekali oleh Ja’d ibn Dirham, dan dikembangkan oleh Jahm ibn Shafwan. Bibit aliran ini sudah ada semenjak masa sahabat , tetapi berkembang pada masa tabiin. Aliran ini ada yang bersifat ekstrim dan ada yang moderat.

4. Qadariyyah

Kata Qadariyyah berasal dari qadara yang berarti berkuasa. Maksud berkuasa adalah mempunyai kekuasaan (qudrah). Tuhan disebut qadir karena Dia mempunyai qudrah yang sangat besar dan dahsyat. Manusia bisa berbuat karena dalam dirinya juga terdapat qudrah.
Seperti Jabbariyah, Qadariyah juga mencurahkan perhatian kepada perbuatan Allah dan perbuatan manusia. Tidak banyak diketahui, kapan dan bagaimana Qadariyah muncul di dunia islam.Menurut pendapat sebagian ahli ilmu kalam, orang pertama membawa paham Qadariyah adalahMa’bad al-Juhani (w. 80 H /899 M) dan Ghaylan al-Dimasyqi (w. 105 H /722 M).
Menurut dua tokoh ini, manusia berkuasa atas perbuatannya, mempunyai kebebasan dalam menentukan perjalanan hidupnya, dan mempunyai kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatannya. Jadi disini tidak ada campur tangan Tuhan pada waktu manusia berbuat atau memilih untuk tidak berbuat, tidak terdapat paham bahwa nasib manusia telah ditentukan telebih dahulu, dan manusia bertindak menurut aturan yang ditentukan semenjak azali. Tetapi paham yang ada ialah manusia merdeka dalam tingkah lakunya, berbuat atas kehendak dan kemauan sendiri.

5. Mu’tazilah

Kata Mu’tazilah berasal dari kata i’tazala dengan makna (naha’an) yang berarti menjauhkan atau memisahkan diri dari sesuatu. Kata ini kemudian menjadi nama suatu aliran dalam ilmu kalam yang umumnya para sarjana menyebutnya sebagai Mu’tazilah berdasarkan peristiwa yang terjadi antara Washil ibn ‘Atha’ (80 H/699 M-131 H/748 M) dan ‘Amr ibn ‘Ubayd dengan al-Hasan al-Bashri. Dalam majelis pengajian al-Hasan al-Bashri muncul pertanyaan tentang kedudukan orang yang berdosa besar. Ketika al-Hasan al-Bashri berpikir, Washil berkata bahwa orang yang berdosa besar bukan;ah mukmin dan juga bukan kafir, tetapi berada diantara dua posisi yang istilahnya al-manzilah bayn al-manzilatayn.
Dari Uraian diatas dapat dipahami bahwa pemimpin tertua yang mengembangkan paham Mu’tazilahadalah Washil ibn ‘Atha’

6. Asy’ariyyah

Aliran Asy’ariyyah muncul sebagai reaksi terhadap aliran Mu’tazilah. Banyak alasan yang dikemukakan orang, mengapa al-Asy’ari meninggalkan Mu’tazilah. Alasan paling kuat adalah karena al-Asy’ari memperhatikan kepentingan umat yang saat itu sudah pecah. Akibat dari mihnah, dilanjutkan dengan pembatalan Mu’tazilah sebagai mazhab resmi negara, kebanyakan muslim tidak lagi menganggap Mu’tazilah, keadaan sekarang menjadi tebalik. Ibn Hanbal dan pengikutnya menjadi lebih dekat dengan penguasa, sedangkan Mu’tazilah menjadi jauh dari penguasa. Aliran Mu’tazilah yang minoritas dan telah ditinggalkan oleh penganutnya tidak mungkin lagi dipertahankan oleh al-Asy’ari. Padahal, saat itu tidak ada lagi aliran teologi islam lainn yang teratur sebagai ganti pegangan umat. Kiranya inilah motivasi al-Asy’ari untuk membentuk teologi islam baru setelah puluhan tahun menganut paham Mu’tazilah.
Jadi al-Asy’ari adalah peletak dasar aliran Asy’ariyah, tetapi aliran ini berkembang ditangan murid-muridnya. Salah satu muridnya yang terkenal adalah Muhammad ibn Thayyib ibn Muhammad Abu Bakr al-Baqillani (w. 403 H/1013 M). Ia tidak belajar langsung kepada al-Asy’ari. Pemikiran al-Asy’ari dipelajari dan diambilnya dari al-Bahili dan ibn Mujahid.

7. Maturdiyyah

Seperti Asy’ariyah, Maturdiyah juga muncul sebagai reaksi terhadap pemikiran Mu’tazilah. Sebenarnya aliran ini terdiri atas dua kelompok, yaitu maturdiyyah yang berkembang di Samarkkand yang dibawa oleh Abu Mansyur al-Maturidi (w. 333 H/944 M), dan Maturidiyyah yang berkembang di Bukhara yang dibawa oleh al-Bazdawi (421-493 H). Seperti Asy’ariyah, aliran ini juga banyak memakai Alquran dan sunah nabi sebagai argumen dalam pemikiran kalam mereka. Oleh sebeb itu, ketiga golongan ini (Asy’ariyyah, Maturdiyyah Samarkand dan Maturdiyyah Bukhara) disebut sebagai aliran Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/kumpulan-kultum-ramadhan/