Pendidikan

ASPEK SOSIOLOGIS PERBUATAN BUNUH DIRI

ASPEK SOSIOLOGIS PERBUATAN BUNUH DIRI

Pada zaman romawi kuno peristiwa bunuh diri di kalangan kaum bangsawan disebut sebagai kejadian yang terhormat penuh unsure kemuliaan, dan menjadi bagian dari alat kebiasaan sosial. Namun pada zaman revolusi Perancis, bunuh diri bukan lagi menjadi bagian dari adat-istiadat yang dinilai tinggi, akan tetapi dianggap sebagai kegagalan tingkah laku manusia atau penyakit mental. Dari asumsi diatas, yang kemudian melatarbelakangi teori psikologis yang menyatakan bahwa bunuh diri disebabkan oleh kegilaan atau kelemahan karakter atau ketidakimbangan jiwa (teori Dahlgren, 1945; Achille-Delmas,1932; Deshaies, 1947). Selain itu teori sosiologis juga menyatakan, bahwa bunuh diri disebabkan oleh kegagalan dari control normative pada individu oleh masyarakat (Briere de Boismont,1856,Morselli, 1879 dan Emile Durkheim, 1897).

Pada abad ke-19, peristiwa bunuh diri berkaitan dengan opini dan interprestasi orang mengenai kehampaan hidup didunia dan keindahan dunia keabadian sesudah mati, yang banyak diajarkan oleh kaum rokhaniawan. Ditambah dengan kurangnya disipin diri, berkembangnya egoisme dan materalisme dan peristiwa-peristiwa disorganisasi moral yang menjalar dengan pesat

Bunuh diri juga dianggap sebagai gerakan romantic atau symbol romantisisme, yaitu melambangkan seorang pengembara yang kesepian dan terisolir yang tengah mencari kesia-siaan dan hal-hal yang tidak mungkin bisa dicapai ditengah masyarakat manusia. Kemudian orang menjadi semakin melankolis dan keranjingan pada keabadian (kematian, kehidupan abadi). Kesepian dan isolasi menakibatkan melankoli atau kesedihan dan selanjutnya menumbuhkan rasa-rasa kerinduan pada kematian dan perbuatan bunuh diri, dengan demikian pada abad ke-19 bunuh diri menjadi model mitis (mitos) dalam kehidupan manusia.

Adolphe Quetelet seorang sosiolog menyatakan, bahwa setiap “system sosial” yang stabil akan menghasilkan satu tipe kepribadian yang rata-rata stabil, contohnya apabila dalam suatu masyarakat berkumpul menjadi satu kelompok masyarakat dengan tata kehidupan dan atauran tertentu untuk mengendalikan tingkah laku setiap anggotanya. sedangkan masyarakat dan moral-moralnya masyarakat yang mempunyai sifat menekan menjadi penyebab utama terjadinya kasus bunuh diri. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan otoritas moral eksternal untuk mengatur masyarakat dan menetapkan pola tingkah laku manusianya.tanpa otoritas moral eksternal ini akan muncul egoism ekstrim anomi, fatalism disintegrasi sosial dan personal, kekacauan, ketidakseimbangan, tanpa kesatuan dan persatuan atau kohesi dan tidak adanya kejelasan. Semua ini menuju pada khaos, yang memunculkan disintegrasi-disorganisasi personal dan bisa mendorong orang melakukan perbuatan bunuh diri.

Para sarjana dinegara-negara Barat kemudian sampai pada prinsip umum yang mengemukakan pendapat sebagai berikut:

  1. Urbanisasi akan berhubungan langsung dengan tingginya angka bunuh diri.
  2. Industrialisasi dan kesejahteraan, kedua-duanya akan berhubungan langsung dengan tingginya angka bunuh diri di Negara-negara Eropa  pada abad ke-19 dan di Negara-negara yang sudah maju dan berkembang pada abad modern seperti sekarang ini.
  3. Periode-periode penuh disorganisasi dan reorganisasi, seperti masa-masa perang, akan menurunkan angka kematian bunuh diri karena system pencatatan tidak banyak melaporkannya dan lebih banyak tugas-tugas penting lainnya yang harus dikerjakan ditambah dengan mobilisasi ketahanan mental penduduk  pada umumnya.
  4. Semakin terintegrasi satu kelompok sosial primer dan semakin merasa pedih mereka kehilangan anggota yang melakukan bunuh diri, maka semakin besar usaha mereka untuk menyembunyikan peristiwa bunuh diri itu.

            Maurice Halbwachs (1930) kemudian menggembangkan teorinya sebagai satu suplemen dari teori Durkheim mengenai bunuh diri dengan teori sosiologis yang radikal. Ia menyatakan bahwa “Ada kolerasi yang tinggi antara angka kematian bunuh diri dengan kompleksitas satu masyarakat. Misalnya gaya hidup atau system sosiokultural pedesaan yang lebih sederhana daripada gaya hidup perkotaan oleh karena itu angka kematian bunuh diri didaerah pedesaan juga jauh lebih rendah daripada angka kematian didaerah perkotaan”.

Disorganisasi sosial disebabkan oleh sangat kompleksnya masyarakat perkotaan dengan adanya mekanisasi, teknologi, industrialisasi, transportasi, komunikasi yang kemudian memunculkan banyak disorganisasi personal tersebut memanifestasikan diri dalam pola-pola:

         “Semakin tidak mampunya orang-orang kota mengatasi situasi-situasi krisis yang dihadapi sehari-hari, karena itu banyak agensi kasus bunuh diri membuktikan, bahwa ada kolerasi akrab antara tingginya angka bunuh diri dengan disintegrasi sosial.”

Inti teori sosiologis yang mutakhir menyatakan bahwa semakin terintegrasi secara sosial atau semakin kurang konfliktius satu perangkat  status-status, seperti usia, ras, status marital, profesi atau pekerjaan, sekolah, jaminan hari tua dan lain-lain yang dimiliki anggota-anggota masyarakat, maka semakin sedikit asosiasi kondisi tersebut dengan peristiwa bunuh diri.

  1. ASPEK PSIKOLOGIS PERBUATAN BUNUH DIRI

Bunuh diri merupakan perilaku manusia, yang sadar menginginkan pencabutan nyawa sendiri, beralasan motivasi-motivasi tertentu; ditambah dengan satu konsep “idealistis” mengenai kelanggengan –kebahagiaan abadi dari kematian (dengan menghentikan kehidupan sendiri).

sumber :

https://avenuedjazz.com/vikings-apk/