Bantu Petambak Udang, Mahasiswa ITS Ciptakan Kapal Tanpa Awak

Bantu Petambak Udang, Mahasiswa ITS Ciptakan Kapal Tanpa Awak

Bantu Petambak Udang, Mahasiswa ITS Ciptakan Kapal Tanpa Awak

Bantu Petambak Udang, Mahasiswa ITS Ciptakan Kapal Tanpa Awak
Bantu Petambak Udang, Mahasiswa ITS Ciptakan Kapal Tanpa Awak

Kurangnya efisiensi pemberian pakan dalam proses budidaya udang menjadi

masalah bagi para petambak udang saat ini. Mengingat permintaan yang terus meningkat namun biaya pakan udang yang lebih dari setengah total biaya membuat petambak kesulitan. Menilik kondisi ini, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan teknologi Smart Shrimp Counter (SSC), sebuah Autonomous Surface Vehicle (ASV) atau kapal tanpa awak penghitung entitas udang berbasis underwater image processing sebagai solusi persoalan tersebut.

Adalah Chrisna Aditya Pamungkas, Thomas Teguh Rahardjo, Ridwan Prasetyo, Zahrah Ayu Afifah Febriani, dan Rizky Najwa yang memelopori terciptanya teknologi ini. Chrisna Aditya Pamungkas selaku ketua tim mengungkapkan, permintaan udang di wilayah Jawa Timur dari tahun ke tahun terus meningkat.

Pada 2014 lalu Jawa Timur telah memasok udang vannamei sebanyak 47.150 ton

, dan pada tahun yang sama total nilai ekspor udang di Indonesia mencapai USD 1,7 miliar. “Udang jenis ini (vannamei, red) memiliki serat dan daging yang banyak, sehingga sangat digemari oleh konsumen,” imbuh mahasiswa yang akrab disapa Chrisna ini.

Alih-alih menjadi peluang usaha yang menjanjikan, kondisi ini malah membuat petambak udang kesulitan karena modal budidaya udang yang tinggi, khususnya ongkos produksi yang tinggi. Chrisna mengungkapkan, selama ini biaya pakan yang dikeluarkan oleh petambak udang mencapai 60 sampai 70 persen dari total biaya budidaya udang.

Hal tersebut, menurut Chrisna, disebabkan oleh pemberian pakan yang hanya didasarkan pada perkiraan jumlah bibit yang dimasukkan ke dalam kolam tanpa tahu jumlah pasti dari udang dalam kurun umur tertentu saat budidaya. “Akibatnya, pakan yang diberikan sangat banyak dan tidak terukur, dan akhirnya menyebabkan pembengkakan anggaran,” papar mahasiswa Departemen Teknik Mesin Industri ini.

Lanjut Chrisna, pemberian pakan yang banyak kepada udang bukanlah suatu hal yang positif

, namun dapat menjadi hal negatif karena berpotensi menyebabkan overfeeding atau pemberian pakan yang berlebih. Padahal, overfeeding akan menyebabkan senyawa organik yang terdapat di dalam kolam akan meningkat, sehingga menyebabkan kematian pada udang. “Begitu pula sebaliknya. Apabila pakan yang diberikan kurang, akan menyebabkan udang bersifat kanibal,” papar mahasiswa asal Tuban ini.

 

Sumber :

https://my.bankstreet.edu/ICS/Campus_Life/Campus_Groups/Learning_Through_Collaboration/Student_Papers_and_Projects.jnz?portlet=Student_Discussion&screen=PostView&screenType=change&id=8762e50d-62bf-4c2b-98e4-02bfe7848e1e