Biografi AL-MÂWARDI
Agama

Biografi AL-MÂWARDI

Biografi AL-MÂWARDI

Biografi AL-MÂWARDI
Biografi AL-MÂWARDI

ASAL USUL KELUARGA AL-MÂWARDI

Nama lengkap al-Mâwardî adalah Abû al-Hasan ‘Alî ibn Muhammad ibn Habîb al-Mâwardî al-Bashrî al-Syâfi’î al-Baghdâdî. Al-Mâwardî merupakan nisbat kepada mâ’ al-ward (mâ’: air; al-ward: mawar), yaitu sebutan untuk profesi yang digeluti oleh keluarga al-Mâwardî sebagai pembuat dan penjual air bunga mawar. Sedangkan al-Bashrî merupakan nisbat kepada tempat kelahirannya, yaitu kota Bashrah. Sebutan al-Syâfi’î menunjukkan bahwa ia merupakan pengikut mazhab Syâfi’i, bahkan dianggap sebagai salah seorang ulama Syafi’iyyah yang terkemuka. Sementara al-Bagdâdî merupakan nisbat kepada tempat al-Mâwardi menghabiskan lebih banyak masa hidupnya hingga ia wafat di sana, yaitu kota Baghdad.

Al-Mâwardi juga mempunyai nama kun-yah (julukan), yaitu: Abû al-Hasan, dengan laqb (gelar) aqdhâ al-qudhât (semacam hakim agung sekarang). Yâqût al-Hamawî menyebutkan bahwa gelar aqdhâ al-qudhât ini diterimanya pada tahun 429 H.
Al-Mâwardi lahir di kota Bashrah pada tahun 364 H, atau bertepatan dengan tahun 974 M. Walaupun lahir di kota Bashrah, namun ia tumbuh dan besar di kota Baghdad. Ia lebih banyak menghabiskan masa hidupnya di kota Baghdad, hingga akhirnya di kota ini pula ia wafat. Ia wafat pada tahun 450 H, atau bertepatan dengan tahun 1058 M, dalam usia 86 tahun.

 SITUASI SOSIO-HISTORIS PADA MASA AL-MÂWARDÎ

a) Aspek Politik Pemerintahan

Telah diuraikan sebelumnya bahwa al-Mâwardî hidup dari tahun 364 H sampai dengan tahun 450 H. Ini berarti ketika itu pemerintah Islam berada di bawah kekuasaan dinasti Buwaihiyyah. Dinasti Buwaihiyyah berhasil menaklukkan daerah-daerah yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan dinasti ‘Abbasiyah. Namun dengan kekuatan militer yang dimiliki, dinasti Buwaihiyyah dengan mudah menaklukkan daerah-daerah tersebut.

Dinasti Buwaihiyyah tidak puas hanya dengan menaklukkan wilayah geografis saja, mereka juga berambisi menaklukkan para khalifah ‘Abbasiyah itu sendiri. Pada akhirnya, mereka berhasil membuat para khalifah hanya menjadi lambang saja, sementara kekuasaan yang sesungguhnya berada di tangan dinasti Buwaihiyyah. Ini berarti kekhalifahan di Baghdad sudah berada di bawah bayang-bayang para amir Buwaihi. Maka secara de facto, mereka inilah yang berkuasa menentukan kebijakan negara, sedangkan khalifah hanya dijadikan sebagai simbol.

Para amir dinasti Buwaihî merupakan penganut mazhab syi’ah yang sangat fanatik. Mereka sering mengadakan perayaan-perayaan dan acara-acara keagamaan yang banyak mengandung bid’ah, seperti perayaan hari ghadîr khum dan peringatan hari ‘âsyûrâ’. Para wanita ketika itu juga diperintahkan untuk keluar dari rumah dan pergi ke pasar dalam keadaan kepala tertunduk sebagai tanda penyesalan, sambil memukul-mukul dada dan merobek-robek selendangnya. Dan hal-hal lain yang penuh dengan praktek bid’ah dan khurafat syi’ah. Semua itu dilakukan atas perintah para amir dinasti Buwaihiyyah, terutama pada masa pemerintahan Mu’iz al-Daulah ibn Buwaih.

b) Aspek Sosial Kemasyarakatan

Aspek sosial kemasyarakatan sangat erat kaitannya dengan aspek politik pemerintahan. Jika aspek politik berkaitan dengan pemerintah dan penguasa, maka aspek sosial kemasyarkatan merupakan hal-hal yang berkaitan dengan kondisi internal masyarakat tersebut. Tentu kondisi sosial kemasyarakatan di suatu daerah mempengaruhi kondisi pemerintahan yang ada, baik positif maupun negatif. Adapun kondisi sosial kemasyarakatan yang terjadi pada masa al-Mâwardî adalah sebagai berikut:
– Mulai melemahnya mazhab ahlu al-sunnah dan mulai munculnya kekuatan syi’ah di bawah kekuasaan dinasti Buwaihiyyah.
– Mulai hilangnya wibawa sulthân dan merajalelanya kriminalitas berupa pencurian, perampasan dan demonstrasi-demonstrasi di dalam negeri.
– Para sulthân dan amîr lebih menyibukkan diri dengan kemawahan duniawi, dan tidak lagi memperhatikan kepentingan rakyat.

Baca Juga: Sayyidul Istigfar

c) Aspek Ilmu Pengetahuan

Telah diakui bahwa pada masa dinasti Abbasiyah, ilmu pengetahuan mencapai puncak kejayaaannya atau sering diistilahkan dengan al-‘ashru al-dzahabî (masa keemasan). Ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat di segala bidang. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kemajuan ilmu pengetahuan pada masa dinasti Buwaihi, di antaranya:

1. Warisan tradisi dari dinasti Abbasiyah awal yang mendorong para pemikir abad berikutnya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, seperti banyaknya penterjemahan, penulisan karya ilmiah serta pen-tahqîq-an kitab-kitab sebelumnya pada masa Hârûn al-Rasyîd dan al-Makmûn.

2. Perhatian khalifah dan amîr yang begitu besar terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Ini dapat dilihat pada masa ‘Adhdhu al-Daulah yang memberikan honorarium yang besar terhadap para fuqahâ’, muhadditsîn, mutakallimîn, ahli nahwu, pujangga, sastrawan, dokter, ahli hisab, arsitek dan lain-lain.
Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan itu berlangsung cukup lama hingga masa pemerintahan dinasti Abbasiyah berakhir. Pada masa inilah al-Mâwardî dan sejumlah ulama lainnya hidup, Mereka ahli dalam berbagai disiplin ilmu, seperti sastra, fiqh, hadis, dan tafsir. Hal ini memberikan pengaruh besar bagi khazanah intelektual ketika itu.