Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Pendidikan Di Indonesia
Pendidikan

Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Pendidikan Di Indonesia

Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Pendidikan Di Indonesia

Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Pendidikan Di Indonesia

Semakin tertinggalnya pendidikan bangsa ini dari bangsa-bangsa lain harusnya membuat kita lebih termotivasi untuk berbenah diri. Banyaknya masalah pendidikan yang muncul semakin kompleks seiring dengan berkembangnya zaman. Berikut ini secara khusus akan saya paparkan beberapa faktor yang menyebabkan kualitas pendidikan di Indonesia rendah.

 

 

1. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik

Untuk sarana fisik, banyak sekali lembaga pendidikan di Indonesia yang tidak layak untuk digunakan. Banyak pula sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, atau bahkan masih ada lembaga pendidikan yang belum memiliki gedungnya sendiri, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, serta buku perpustakaan yang tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak sesuai standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya.
Nanang Fatah, seorang pakar pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan sekitar 60 % bangunan sekolah di Indonesia rusak berat. Di wilayah Jawa Barat, sekolah yang rusak mencapai 50 %.
Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan untuk satuan SD terdapat 146.052 lembaga yang menampung 25.918.898 siswa serta memiliki 865.258 ruang kelas. Dari seluruh ruang kelas tersebut sebanyak 364.440 atau 42,12 % berkondisi baik, 299.581 atau 34,62 % mengalami kerusakan ringan, dan sebanyak 201.237 atau 23,26 % mengalami kerusakan berat. keadaan yang serupa juga terjadi di SMP, MTs, SMA, dan SMK akan tetapi prosentasenya tidak sama.

 

 

2. Rendahnya Kualitas Guru

Keadaan guru di Indonesia juga memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana telah disebutkan dalam pasal 39 UU No. 20 / 2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan perhatian, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.
Prosentase guru menurut kelayakan mengajar dalam tahun 2002-2003 di berbagai satuan pendidikan adalah sebagai berikut : untuk SD yang layak mengajar hanya 21,07 % (negeri) dan 28,94 % (swasta), untuk SMP 54,12 % ( negeri) dan 60,99 % (swasta), untuk SMA 65,29 % (negeri) dan 64,73 % (swasta), serta untuk SMK yang layak mengajar 55,49 % (negeri) dan 58,26 % (swasta).
Walaupun guru atau pengajar bukanlah satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi. Sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memiliki andil yang sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya.

 

 

3. Rendahnya Kesejahteraan Guru

Rendahnya kesejahteraan guru mempengaruhi peran dalam membuat kualitas pendidikan di Indonesia. Berdasarkan survei FGII (Federasi Gur Independen Indonesia) pada pertengahan tahun 2005, idealnya seorang guru menerima gaji bulanan sebesar Rp. 3.000.000,00. Sekarang pendapatan rata-rata guru perbulannya sebesar Rp. 1.500.000,00. Guru bantu Rp. 460.000,00 dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp. 10.000,00 per jam.
Dengan pendapatan seperti itu, terang saja banyak guru-guru yang melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mi rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya (Republika, 13 Juli 2005).
Selain itu kesenjangan guru swasta dan negeri menjadi masalah lain yang muncul. Di lingkungan pendidikan swasta, masalah kesejahteraan guru masih sulit mencapai taraf ideal. Sebanyak 70 % dari 403 PTS di Jawa Barat dan Banten tidak sanggup untuk menyesuaikan kesejahteraan dosen sesuai dengan amanat UU Guru dan Dosen (Pikiran Rakyat, 9 Januari 2006).
Mengapa kesejahteraan guru menjadi hal yang berpengaruh terhadap kualitas pendidikan di Indonesia? Hal ini penting dan berpengaruh jika kesejahteraan seorang pengajar belum terpenuhi, kemungkinan besar akan sulit bagi pengajar untuk menyampaikan bahan ajar terhadap peserta didik dengan optimal karena bisa saja motivasi mereka untuk mentransfer ilmu menjadi berkurang. Dan konsentrasi pendidik pun lebih mengarah terhadap bagaimana memenuhi kebutuhannya sendiri.

 

 

4. Rendahnya Prestasi Siswa

Dengan keadaan-keadaan di atas, pencapaian prestasi siswa pun menjadi kurang memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah. Menurut Trends in Mathematics and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia hanya berada di peringkat ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan berada di peringkat ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains.
Namun bukan berarti bahwa anak-anak di Indonesia bodoh. Pada dasarnya tidak ada anak yang bodoh. Yang ada adalah anak yang rajin dan yang kurang rajin.
Jika ditarik suatu garis hubungan, tinggi atau tidaknya motivasi belajar dari para siswa ini bisa juga disebabkan oleh faktor-faktor eksternal yang tidak akan diulas secara mendalam dalam makalah ini.

 

 

5. Mahalnya Biaya Pendidikan

“Pendidikan bermutu itu mahal”. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari taman kanak-kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat yang kurang mampu tidak memilii pilihan lain selain tidak bersekolah.
Sebenarnya jika kita membandingkan dengan negara-negara lain untuk menempuh pendidikan di luar negeri jauh lebih mahal dibandingkan dengan biaya pendidikan kita. Namun mengapa rakyat masih menganggap biaya pendidikan di Indonesia tergolong sangat mahal? Tentu saja hal tersebut dapat terjadi mengingat keadaan ekonomi negara kita saat ini.

 

 

6. Masalah Kurikulum

Ada kekurangan yang dapat kita rangkum secara global dalam konteks pendidikan perihal kurikulum. Pertama, kurikulum pendidikan di Indonesia yang kurang menekankan pentingnya studi yang dalam dan berkelanjutan mengenai wawasan nusantara. Hal ini terbukti dengan kurangnya sorotan lembaga pendidikan terhadap alokasi waktu mata pelajaran khususnya Kewarganegaraan yang dalam realisasinya hanya mendapat sorotan selama 2 s/d 2,5 jam per minggunya.
Hal tersebut akan berdampak pada kurangnya jiwa nasionalisme dari peserta didik. Hal ini akan merugikan bangsa karena pada saat peserta didik memasuki dunia kerja. Orientasi utama mereka mungkin lebih mengarah terhadap materi dan bukannya member kontribusi terhadap negara.
Kedua, kurikulum pendidikan di Indonesia dari segi pengajaran kita yang kurang mengarahkan peserta didik untuk nantinya jika telah lulus menempuh pendidikan formal untuk menciptakan sesuatu. Hal ini akan membentuk kepribadian yang konsumtif.

 

 

Sumber : https://bimbel.co.id/