Gelar Al-Amin Nabi Muhammad Saw dan Pernikahannya Dengan Khadijah

Gelar Al-Amin Nabi Muhammad Saw dan Pernikahannya Dengan Khadijah

Gelar Al-Amin Nabi Muhammad Saw dan Pernikahannya Dengan Khadijah

Gelar Al-Amin Nabi Muhammad Saw dan Pernikahannya Dengan Khadijah
Gelar Al-Amin Nabi Muhammad Saw dan Pernikahannya Dengan Khadijah

Gelar al-Amin

Pada usia 20 tahun, Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam mendirikan Hilful-Fudûl, suatu forum yang bertujuan memmenolong orang-orang miskin dan teraniaya. Saat itu di Mekah memang sedang kacau akhir perselisihan yang terjadi antara suku Quraisy dengan suku Hawazin. Melalui Hilful-Fudûl inilah sifat-sifat kepemimpinan Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam mulai tampak. Karena aktivitasnya dalam forum ini, disamping ikut memmenolong pamannya berdagang, namanya semakin populer sebagai orang yang terpercaya. Relasi dagangnya semakin meluas lantaran diberita kejujurannya segera tersiar dari lisan ke mulut, sehingga ia mendapat gelar Al-Amîn, yang artinya orang yang terpercaya.
Selain itu ia juga populer sebagai orang yang adil dan mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi. Suatu ketika bangunan Ka’bah rusak lantaran banjir. Penduduk Mekah kemudian bersama-sama memperbaiki Ka’bah. Saat pekerjaan hingga pada pengangkatan dan peletakan Hajar Aswad ke tempatnya tiruanla, terjadi perselisihan. Masing-masing suku ingin mendapat kehormatan untuk melaksanakan pekerjaan itu. Akhirnya salah satu dari mereka kemudian berkata, “Serahkan putusan ini pada orang yang pertama memasuki pintu Shafa ini.”

Mereka tiruana menunggu, kemudian tampaklah Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam muncul dari sana. Semua hadirin berseru, “Itu ia al-Amin, orang yang terpercaya. Kami rela mendapatkan tiruana keputusannya.”
Sesudah mengerti duduk perkaranya, Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam kemudian membentangkan sorbannya di atas tanah, dan meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengah, kemudian meminta tiruana kepala suku memegang tepi sorban itu dan mengangkatnya secara bersama-sama. Sesudah hingga pada ketinggian yang diharapkan, Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam meletakkan kerikil itu pada tempatnya tiruanla. melaluiataubersamaini demikian selesailah perselisihan di antara suku-suku tsb dan mereka pun puas dengan cara penyelesaian yang sangat bijak itu.

Baca Juga: Ayat Kursi

Pernikahan dengan Khadijah

Pada usia 25 tahun, atas seruan Khadijah binti Khuwailid, seorang saudagar kaya raya, Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam berangkat ke Suriah membawa barang dagangan saudagar perempuan yang sudah lama menjanda itu. Ia dimenolong oleh Maisaroh, seorang pemmenolong lelaki yang sudah lama bekerja pada Khadijah. Sejak pertemuan pertama dengan Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam, Khadijah sudah menaruh simpati melihat penampilan Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam yang sopan itu. Kekagumannya semakin bertambah mengetahui hasil penjualan yang dicapai Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam di Suriah melebihi perkiraannya.
Akhirnya Khadijah mengutus Maisaroh dan mitra karibnya, Nufasah untuk memberikan isi hatinya kepada Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Khadijah yang berusia 40 tahun, melamar Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam untuk menjadi suaminya.

Sesudah bermusyawarah dengan keluarganya, lamaran itu kesudahannya diterima dan dalam waktu akrab segera diadakan upacara ijab kabul dengan sederhana. yang hadir dalam program itu antara lain Abi Thalib, Waraqah bin Nawfal dan Abu Bakar as-Siddiq.

Pernikahan senang itu dikaruniai 6 orang anak, terdiri dari 2 anak lelaki berjulukan Al-Qasim dan Abdullah, dan 4 anak perempuan berjulukan Zainab, Ruqayyah, Ummu Kalsum, dan Fatimah. Kedua anak lelakinya meninggal selagi masih kecil. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam tidak berkeluarga lagi hingga Khadijah meninggal, ketika Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam berusia 50 tahun.

Dalam kehidupan rumah-tangganya dengan Khadijah, Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam tidak pernah menyakiti hati istrinya. Sebaliknya istrinya pun tulus menyerahkan segalanya pada suaminya. Kekayaan istrinya digunakan oleh Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam untuk memmenolong orang-orang miskin dan tertindas. Budak-budak yang sudah dimiliki Khadijah sebelum ijab kabul mereka, tiruananya ia bebaskan, salah satunya yaitu Zaid bin Haritsah yang kemudian menjadi anak angkatnya.