Agama

‘Iwad Khulu’

‘Iwad Khulu’

‘Iwad Khulu’

‘Iwad Khulu’

Dalam hadis Tsabit bin Qais, Nabi memerintahkan agar isterinyaTsabit mengembalikan mahar yang berupa kebun kepada suaminya ketika ia minta diceraikan dari suaminya dan kepada Tsabit, Nabi meminta agar menerima pengembalian mahar tersebut. Permasalahannya apakah ‘iwad itu dibatasi sebesar mahar atau sesuatu barang yang pernah diberikan suami kepada isterinya dan tidak boleh lebih dari itu ataukah suami boleh meminta lebih dari yang pernah diberikannya.
Sebagian ulama berpendapat, bahwa suami tidak boleh menerima iwad melebihi dari mahar yang diberikannya. Alasannya karena dalam hadis riwayat ad-Daruqutni dari Abu Zubair disebutkan bahwa Abu Zubair memberikan mas kawin kepada isterinya sebidang kebun, kemudian isterinya minta cerai, Nabi memerintahkan kepada isteri Abu Zubair agar mengembalikan kebun (mahar) tersebut, dan isterinya mau bahkan dengan tambahan (نَعَمْوَزِيَادَةً ), Nabi mengatakan: tambahannya tidakboleh(اَمَّاالزِّيَادَةُفَلاَ ).

Jumhur fuqaha

berpendapat bahwa uang khulu’ itu boleh lebih dari mahar atau melebihi dari apa yang pernah diberikan suami kepada isterinya. Mereka berpegangan kepada firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 229:“فَلَاجُنَاحَعَلَيْهِمَافِيمَاافْتَدَتْبِه” .Ayat ini umum meliputi tebusan sedikit atau banyak.

Menurut fuqaha Syafi’iyah

iwad dari isteri itu boleh lebih besar dari mahar yang diterimanya, boleh berupa barang atau manfaat (termasuk jasa), boleh tunai dan boleh dihutang. Segala yang dapat dijadikan mahar dapat pula dijadikan iwad. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 229: “فَلَاجُنَاحَعَلَيْهِمَافِيمَاافْتَدَتْبِه”
Perbedaan pendapat di atas adalah berkaitan dengan perbedaan mengenai boleh tidaknya mentakhsis al-Qur’an dengan Hadis Ahad. Bagi yang tidak memperbolehkan ayat al-Qur’an ditakhsis dengan hadis ahad, mengatakan “boleh menerima iwad melebihi mahar”. Bagi yang yang memperbolehkan hadis ahad mentakhsis keumuman ayat, mengatakan “iwad tidak boleh melebihi mahar”. IbnuRusyd mengatakan: “orang yang menyamakan tebusan dengan iwad dalam muamalah pada umumnya, berpendapat bahwa besarnya iwad itu menurut kerelaan. Orang yang hanya memegangi teks hadis, berpendapat iwad tidak boleh melebihi mahar, sebab dianggap mengambil yang bukan haknya.

Baik yang berpendapat iwad itu tidak boleh melebihi besarnya mahar atau boleh lebih besar dari mahar, kesemuanya sepakat bahwa tidak boleh menyakiti isteri agar ia mau menebus dirinya. Perbuatan demikian diharamkan agar tidak terjadi perceraian dari suami dengan perampasan harta. Allah berfirman:
تَأْخُذُونَهُنْأَرَدْتُمُاسْتِبْدَالَزَوْجٍمَكَانَزَوْجٍوَءَاتَيْتُمْإِحْدَاهُنَّقِنْطَارًافَلَاتَأْخُذُوامِنْهُشَيْئًاأَوَ
بُهْتَانًاوَإِثْمًامُبِينًا
Artinya: ” Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?”.

Baca Juga: