Umum

jurnal tasawuf akhlaki

Jurnal Tokoh Sufi Abad V dan Gerakan Pembaharuan Tasawuf

Al-Qur’an dan As-sunnah.

Pembahasan :
Dalam perkembangan tasawuf abad ke-lima sendiri dipengaruhi oleh perkembangan sebelumnya. Dimana pada saat kematian al-Hallaj di atas tiang kayu menimbulkan kesan yang tidak baik terhadap pandadangan tasawuf waktu itu.[1] Setelah beliau menjalani hukum mati pada tahun 922 M. Tahun-bertahun bertambahlah perbedan antara pandangan ilmu fiqih dengan tasawuh hingga puncaknya pada abad ke-lima yang membahas permasalahan mtafisika yang tinggi. Pada waktu itu terkenal tujuan dari tasawuf yaitu mencapai kebahagian jiwa dengan mencari tuhan.
Abad ke-empat berkembang tiga ilmu dalam Islam, yaitu ilmu tasawuf, ilmu kalam, dan ilmu fiqih. Dan berkembanglah pada waktu itu Madzhab Isma’illyah suatu Mazdhab yang mengembangkan ideologi mengagungkan keturunan Ali bin Abi Thalib dan mengangkatnya ke atas singgah sana kerajaan. Dalam Madzhab ini terkenal akan ajaranya yang keras dalam kaum syi’ah. Yang dipercayai bahwa adanya 12 imam ghaib yang mendiami suatu bukit bernama Ridwan, yang di tunggu kehadirannya. Kepercayaan tersebut memiliki pengertian sama dengan kaum sufi yang meyakini adanya “wali-ullah” sebagai kekasih Allah Swt.
Pada waktu itu ada beberapa sufi yang menjalankan ajaran tasawuf yang dalam upaya membangun mental-spiritual mendekatkan diri kepada Allah Swt, bahkan pula untuk menyatukan dirinya dengan sang pencipta. Dalam pengajaran ini menggunakan pengasingan diri yang lebih cenderung mempunyai kesan anti sosial. Dan abad ke-tiga dan ke-empat munculah dua kelompok dalam pengajaran tasawuf. Golongan pertama adalah orang yang memiliki paham moderat, yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadits. Yang menganut pentingnya akan moralitas. Sedangkan golongan yang kedua lebih cenderung ke arah yang menjauhkan diri dari segala hiruk-piruk akan kehidupan sosial dan anti sosial. Menekan ke arah kefana-an (menghilang dengan tuhan). Dengan sifat anti sosial tersebut yang menghambat atau menolak sama sekali dari pembaharuan yang ada dan tidak mengikuti perkembangan yang ada, sehingga pada waktu itu perkembangan Islam mengalami kemunduran dan di dahului oleh perkembangan Barat.
Melihat beberapa pristiwa tersebut akhirnya timbulah kesadaran akan pengajaran tasawuf yang kurang tepat, sehingga pada abad ke-lima lahirlah tasawuf sunni yang penyandarannya pada Al-qur’an dan As-sunnah. Dinamakan sunni karena tasawuf ini di dasarkan kepada Sunnah Rosulullah dan para sahabat. Lalu munculah imam al-Ghazali pelopor dari ajaran ini. Imam al-Ghazali hanya meneriman tasawuf bedasar pada Al-Qur’an dan As-sunnah serta bertujuan sektisme (zuhud), kehidupan sederhana, pelurusan jiwa, dan pembinaan moral. Pengetahuan tentang kajian tasawuf yang mendalam. Disisi lain, beiau juga melancarkan kritikan tajam terhadap para filosof, kaum muktazilah dan batiniyah. Al-Ghazali berhasil menggunakan prinsip-prinsip tasawuf moderat, yang seiring dengan aliran Ahlussunnaah wal jama’ah yang bertentangan dengan prinsip Al-Hallaj dan Al-Bustami, terutama tentang karakter manusia.[2]
Tokoh lainnya yang sangat berpengaruh dalam perkembangan tasawuf pada abad ke-lima adalah Al-Qusyairi yang dengan bukunya yang bejudul Ar-Risalah Al-Qursyairi yang mengembalikan pemahaman tasawuf ke Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau menentang tentang ajaran yang mengajarkan syathahat, yang memadukan antra sifat-sifat tuhannya yang terdahulu dengan sifat-sifat manusia yang baru.
Abu Isma’il Al-Anshari, yang lebih dikenal dengan Al-Harawi. Sama dengan Al-Qusayari beliau juga berlandaskan kepada Ahlussunnah wal Jama’ah dan bahkan beliau dikenal sebagai pengasas pembaheuan dalam tasawuf dan menentang para sufi yang terkenal dengan keganjilan ungkapan-ungkapan seperti Albustami dan Al-Hallaj.


Sumber: https://pendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/