Palawa Unpad Selesaikan Ekspedisi Padjadjaran Nemangkawi

Palawa Unpad Selesaikan Ekspedisi Padjadjaran Nemangkawi

Palawa Unpad Selesaikan Ekspedisi Padjadjaran Nemangkawi

Palawa Unpad Selesaikan Ekspedisi Padjadjaran Nemangkawi
Palawa Unpad Selesaikan Ekspedisi Padjadjaran Nemangkawi

BANDUNG-Tim Palawa Universitas Padjadjaran berhasil mencapai Puncak

Nemangkawi dalam pendakiannya yang berlangsung akhir bulan Maret lalu. Puncak titik tertinggi Indonesia yang berada di Pegunungan Cartensz, Jayawiya dan merupakan salah satu dari World Seven Summit tersebut berhasil dicapai dengan misi penerapan konsep ‘zero waste mountaineering’.

“Pencapaian tim tersebut merupakan salah satu bentuk pengabdian dalam rangka 35 tahun untuk perhimpunan yang lahir pada tanggal 24 Maret 1982,” ujar salah satu pendaki Ichsan Lovano Pradewa, Rabu (12/4).

Pendakian kali ini dilakukan untuk menuntaskan Ekspedisi Padjadjaran

Nemangkawi (EPN). Ekspedisi yang bertemakan “Petualangan dan Pendidikan” ini merupakan rangkaian dari Penelitian Literasi di Desa Suanggama yang berlangsung sejak November tahun lalu. Kali ini, tim terdiri dari Ichsan Lovano Pradewa (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), Ronni Robinson Simbolon (Fakultas Ilmu Budaya), Muhammad Ikhsan Rizky (Fakultas Geologi), dan Yandi Romadona (Fakultas Teknologi Industri Pertanian).

“Selama pendakian, jalannya pun penuh kabut, jarak pandang mungkin hanya sekitar sepuluh sampai dua puluh meter,” ujarnya.

Selain oksigen yang tipis dan semakin menipis ketika pengaturan napas tak baik, hujan es dengan medan yang semakin sulit juga menjadi tantangan selama pendakian menuju puncak.

Dengan menerapkan konsep ‘zero waste mountaineering’, pendakian sama sekali

tidak menghasilkan sampah. Konsep tersebut bukan sekadar tidak meninggalkan sampah di gunung. Akan tetapi, konsep ini dimulai sejak perencanaan. Hal yang paling mendasar pada penerapan konsep ini terletak pada manajemen konsumsi. Tim mengurangi barang yang berpotensi menghasilkan sampah dan menggantinya dengan wadah pakai ulang berupa kotak makan atau kantong kain.

Selain itu, sesuai dengan nama ekspedisi ini, tim juga membawa misi untuk mempopulerkan nama lokal dari puncak dengan ketinggian 4.884 mdpl tersebut. Puncak yang biasa disebut dengan Puncak Cartensz Pyramid itu memiliki nama lokal “Nemangkawi” yang berasal dari bahasa Suku Amungme.

Nama tersebut berarti Panah Putih karena saat nama tersebut diberikan, gunung tersebut memiliki salju di puncaknya. jo

 

Baca Juga :