Pendidikan

Penafsiran atas Al-Qur’an

Penafsiran atas Al-Qur’an

            Beberapa ajaran agama bersifat tradisional, dan tidak dapat ditunjukkan oleh akal, seperti keajaiban, dan hari penentuan yang meliputi hari kiamat, kebangkitan, pengadilan dan hukuman. Menerima syam’iyyat ini merupakan tiang agama. Orang-orang beriman menerima isinya dengan ketulus hatian, tetapi, sebagai pemikir dalam upaya memberikan keterangan rasional, menafsirkannya dengan cara tertentu atau menganggapnya sekedar hukum alam. Dalam hal ini kaum mu’tazilah telah berusaha, karena sedemikian jauh dalam menafsirkan ini sehingga mereka menentang kaum Trasfiguris yang menyamakan Tuhan dengan sifat-sifat tertentu yang bertentangan dengan keesaan, kesucian dan ketinggian-Nya.[13]

            Al-farabi melakukan penafsiran yang berbeda, ia mengakui keabsaan keajaiban, karena hal itu merupakan alat untuk membuktikan kenabian. Ia berpendapat bahwa keajaiban, meski bersifat adialami, tidak bertentangan dengan hukum alam. Karena sumber hukum ini terdapat pada dunia lingkungan dan intelegansi yang mengatur dunia bumi, dan begitu kita berhubungan dengan dunia itu, mka kejadian-kejadian yang tak bisa akan terjadi pada diri kita. Nabi, sebagaiman diterangkan di atas, mempunyai kekuatan yang dapat menghubungkannya dengan intelegensi agen. Melalui perhubungan inilah, ia dapat menyebabkan hujan turun, tongkat dapat berobah menjadi ular, atau orang buta atau orang lepra dapat disembuhkan. Dengan begini al-farabi mencoba sebagaimana kaum Stoic telah melakukan sebelumnya, menjadikannya sebagai kejadian-kejadian sebab-sebabyang berada diluaar kebiasaan alam dan bahkan bertentangan dengannya.

sumber :
https://icanhasmotivation.com/cara-beli-mobil-bekas-online/