Agama

Pengertian Khulu’ & Dasar Hukumnya

Pengertian Khulu’ & Dasar Hukumnya

Pengertian Khulu’ & Dasar Hukumnya

Pengertian Khulu’

Kata “khulu’” itu dengan dlommah “kha’, dan sukun “lam”nya, (khulu’), ialah menceraikan isteri dengan pembayaran dan kehendak isteri. Kata itu diambil dari kata خلع-يخلع-خلعا(mencopot, menanggalkan). Misalanya: Khala’ats Tsauba (menanggalkan atau melepas pakaian), karena sesungguhnya isteri adalah sebagai pakaian suami menurut pengertian majaz.

Dalam firman Allah Q.S. Al-Baqarah (2):187 :
هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ…
Khulu’ disebut juga al-fida’ yaitu tebusan, karena isteri menebus dirinya dari suaminya dengan mengembalikan apa yang pernah diterimanya. Dengan adanya tebusan tersebut maka isteri melepaskan diri dari ikatan suaminya.
Secara istilah, ada beberapa pengertian khulu’ yang dikemukakan para ulama’.
As-San’any dalam kitabnya Subul as-Salam merumuskan khulu’ dengan:
فراق الزوجة على مال
“ Diceraikannya isteri atas pembayaran suatu harta”

Ulama Hanabilah seperti disebutkan oleh al-Jaziry mendefinisikan khulu’ dengan:
فراق الزج امراته بعوض ياءخذه الزوجرمن امرااته اوغيرها بالفاظ مخصوصة
“Suami menceraikan isterinya dengan suatu iwad yang diterima suami dari isteri atau orang lain dengan ucapan tertentu.”
Khulu’ hanya dapat diminta dalam keadaan yang luar biasa, tidak diperkenankan dengan alasan yang lemah.
قا ل رسول لله عليه وسلم ايما امراة سالت زوجها الطلاق من غيرياس وحرام را ئحة الجنة
Nabi telah bersabda: “Wanita manapun yang meminta cerai dari suaminya tanpa alasan maka diharamkan baginya semerbak surgawi”.
Khulu’ makruh hukumnya kecuali ada kekhawatiran bahwa ketentuan-ketentuan yang telah diciptakan Allah tak akan dapat ditunaikan kalau tidak dengan melepaskan diri ini (bercerai). Sedangkan menurut Al-Dasuqi, khulu’ hukumnya mubah bukan makruh.

Dasar Hukum Khulu’

Kehidupan rumah tangga suami-isteri hanya tegak berdiri atas dasar ketentraman, ketenangan, saling mencintai, saling menyayangi, saling mempercayai, bergaul dengan sebaik-baiknya dan masing-masing pihak menunaikan kewajibannya dengan ikhlas, jujur, dan pengabdian. Sesuai dengan prinsip-prinsip perkawinan yaitu musyawaroh dan demokrasi, menciptakan rasa aman dan tenteram dalam keluarga, menghindari adanya kekerasan, hubungan suami isteri sebagai hubungan partner, dan keadilan. Apabila timbul kekurang senangan dari salah satu pihak baik suami maupun isteri, syari’at islam menasihati agar suami dan isteri selalu berusaha mengobati hal-hal yang menjadi sebab kekurang senangan satu terhadap yang lain.

Allah berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Artinya: Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (Q.S. An-Nisa’ (4): 19).
Namun kebencian terkadang semakin membesar, perpecahan semakin sangat, penyelesaian menjadi sulit, kesabaran menjadi hilang, hak-hak telah terabaikan, prinsip-prinsip perkawinan sudah tidak dijalankan lagi. Sehingga kehidupan suami isteri menjadi sedemikian porak porandanya dan sudah tidak dapat diperbaiki lagi. Maka pada saat yang demikian inilah, syari’at Islam memberikan jalan keluar agar kehidupan rumah tangga tidak semakin hancur lebur. Jika kebencian adanya pada pihak isteri maka Islam membolehkan dirinya menebus dirinya dengan jalan khulu’ yaitu mengembalikan mahar kepada suaminya agar mengakhiri ikatan sebagai suami-isteri.

Kebolehan khulu’

Kebolehan khulu’ ini disebutkan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah: ayat 229:
وَلا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلا أَنْ يَخَافَا أَلا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَعْتَدُوهَا وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Artinya: Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang lalim. (Q.S. al-Baqarah (2): 229).

Sumber: wfdesigngroup