Pendidikan

 Penurunan kualitas sumber daya alam dan energi

 Penurunan kualitas sumber daya alam dan energi

Namun, Brown dan Field mengatakan bahwa harga barang sumber daya alam dan nilai sewa ekonomis memliki kelemahan masing-masing dan mereka menyimpulkan bahwa[4]:

  1. Biaya rata-rata atau biaya per unit yang dipakai oeh Barnett dan Morse dalam mengukur kelangkaan sumber daya alam merupakan indikator yang meragukan karena hal-hal berikut:
  2. Dalam kehidupan yang berkembang terus, biaya rata-rata tidak tepat digunakan untuk mengukur kelangkaan yang semakin meningkat karena tingkat teknologi berkembang terus.
  3. Bahwa biaya per unit tidak memperhitungkan biaya-biaya pengambilan sumber daya di masa mendatang sebagai akibat dari meningkatnya kelangkaan itu sendii.
  4. Biaya per unit tidak dapat menjadi indeks pengukur yang tepat, karena biaya pengambilan di masa mendatang tidak dapat diperhitungkan di saat ini.
  5. Biaya per unit tidak mencerminkan keadaan semakin berkurangnya sumber daya alam.
  6. Bahwa harga barang sumber daya relatif lebih baik daripada biaya per unit sebagai pengukur kelangkaan sumber daya alam karena:
  7. Harga riil barang sumber daya lebih melihat ke depan dan mencerminkan adnya biaya yng diharapkan di masaa mendatang baik untuk eksplorasi, penemuan, maupun pengambilan.
  8. Kemajuan teknologi mengalihkan tanda-tanda kelangkaan sumber daya alam yang ditujukkan oleh harga riil barang sumber daya. Sebagai misal pada abad ke-XIX kau menjadi langka, tetapi kemajuan teknologi telah dapat menjamin kestabian harga barang.
  9. Harga riil tidak menunjukkan adanya kecenderungan semakin langkanya sumber daya alam yang memiliki sumber daya pengganti.
  10. Harga riil sumber daya dapat meningkat atapun menurun, yang berarti menunjukkan adanya kelangkaan atau berkurangnya kelangkaan, tergantung pada harga mana yang dipakai untuk membuat angka indeks . oleh karena itu harga barng sumber daya alam juga merupakan alat pengukur yang kurang jelas.
  11. Nilai sewa dari sumber daya alam atau nilai sumber daya alam di tempatnya, merupakan alat pengukur yang ketiga terhadap kelangkaan sumber daya alam. Nilai sewa ini lebih tepat menggambarkan kelangkaan sumber daya alam dari pada dua cara yang disebut sebelumnya. Nilai sewa sumber daya alam pada umumnya meningkat dalam beberapa puluh tahun yang terakhir,  tetapi biaya produksi Dan harga barang justru menurun, khususnya untuk kayu.

Namun demikian ada beberapa keberatan terhadap alat pengukur ini, di antaranya yaitu:

  1. Sulit untuk mendapatkan data nilai sewa ekonomis dari sumber daya alam, karen nilai sewa sumber daya alam itu tidak praktis dalam jangka pendek.
  2. Nilai sewa lebih memperkirakan kelangkaan sumber daya alam yag semakin meningkat dalam arti ekonomi, tetapi berkurangnya sumber daya alam secar fisik belum  tentu sejalan dengan kenaikan nilai sewa sumber daya alam sebagai cermin dari kelangkaan ekonomis.
  3. Sebagian sumber daya alam diusahakan untuk memenuhi kepentingan umum, sehingga harga pasar tidak mencerminkan penilaian  yang sesungguhaya terhadap sumber daya alam itu.
  4. Tidak ada “future market” untuk sumber daya alam, sehingga tingkat harga dimasa yang akan datang hanya ditentukan oleh harapan saja.

sumber :