Perubahan Besar di dalam Masyarakat Eropa

Perubahan Besar di dalam Masyarakat Eropa

Perubahan Besar di dalam Masyarakat Eropa

Perubahan Besar di dalam Masyarakat Eropa
Perubahan Besar di dalam Masyarakat Eropa

Kamu tentu pernah mendengar adanya paham rasionalisme di dalam masyarakat Eropa. Sebagai dampak dari semangat renaisans, maka banyak tokoh pemikir Eropa yang mengemukakan pendapat dan pengetahuannya. Renaisans adalah kebangkitan kembali jiwa manusia yang selama abad pertengahan diliputi mental inactivity. Saat itu orang ingin mengadakan pembaruan dalam segala hal dan ingin meninggalkan segala hal yang berbau kolot dan terbelakang serta menggantinya dengan hal-hal yang baru. Sedangkan rasionalisme bisa dipahami sebagai sebuah paham yang mengatakan bahwa sumber dari segala kebenaran adalah pikiran manusia. Salah satu tokoh penting dari periode ini adalah Rene Descartes yang mengatakan Cogito, ergo sum, artinya ”Saya berpikir, karena itu Saya ada.”

Mulai abad XVI, beragam ide dan paham atau pemikiran berkembang di Eropa. Masing-masing saling berkait satu sama lain menyebabkan perubahan penting di dalam masyarakat. Berikut ini kita identifikasi beberapa perubahan penting tersebut.

  1. Merkantilisme

Secara historis merkantilisme adalah sebuah pemikiran ekonomi yang tumbuh dan berkembang mulai abad XVI sampai dengan XVIII. Pemikiran ini mengatakan bahwa kemakmuran suatu bangsa dapat bertambah dengan lebih banyak mengekspor dari pada mengimpor barang, sehingga neraca perdagangan menguntungkan bagi negara. Untuk itu, industri dalam negeri harus mendapat perlindungan, sementara ekspor harus diperbanyak dengan beragam fasilitas.

Ada beberapa pokok pikiran dari merkantilisme yang bisa dideskripsikan. Pertama, suatu negara atau raja akan makmur dan kuat apabila ekspor lebih besar dari impor. Kedua, keuntungan yang diperoleh dari selisih antara ekspor dan impor atau ekspor neto yang positif tersebut diwujudkan dengan pemasukan logam mulia (emas dan perak) dari luar negeri.  Ketiga, saat itu logam mulia digunakan sebagai alat pembayaran sehingga negara atau raja yang memiliki logam mulia yang banyak akan makmur, kaya dan kuat.

Saat itu yang menerapkan merkantilisme adalah Raja Karel V (Spanyol), Elizabeth (Inggris), Prinsmauritz (Belanda), dan Louis XIV (Prancis). Merkantilisme yang diterapkan di Prancis dikembangkan oleh Jean Baptiste Colbert sehingga dikenal dengan Colbertisme. Di Inggris, pemerintah memberikan hak-hak monopoli kepada perusahaan dagang. Misalnya  East India Company (EIC) di Asia. Sedangkan di Belanda, pemerintah memberikan hak monopoli kepada Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) untuk menguasai perdagangan di kawasan Timur.

  1. Revolusi Industri

Ada proses sejarah yang panjang yang dahulu pernah terjadi di daratan Eropa. Saat itu terjadi perubahan yang cepat di bidang ekonomi dari kegiatan ekonomi agraris yang tertutup (latifunda) ke ekonomi industri. Dengan menggunakan mesin, bahan mentah diolah menjadi bahan siap pakai. Inilah yang mengubah secara revolusioner kehidupan sosial, ekonomi, dan politik masyarakat Eropa. Secara ekstern, Revolusi Industri disebabkan berlangsungnya revolusi ilmu pengetahuan yang ditandai munculnya serangkaian ilmuwan dan ditunjang dengan berdirinya lembaga-lembaga riset.

Secara internal, Revolusi Industri disebabkan mantapnya keamanan dan politik, menguatnya wiraswasta, sumber daya alam (batu bara) yang melimpah, munculnya paham ekonomi liberal, terjadinya Revolusi Agraria, dan meningkatnya pelayaran perdagangan. Secara umum, Revolusi Industri itu menyangkut perubahan teknologi, sosial ekonomi, dan budaya yang terjadi pada akhir abad XVIII dan awal abad XIX di daratan Eropa. Saat itu terjadi penggantian kegiatan ekonomi yang berdasarkan manusia (pekerja) dengan mesin dan industri. Pelopor Revolusi Industri adalah Inggris yaitu dengan ditemukannya mesin uap oleh James Watt, dengan menggunakan batu bara sebagai bahan bakar dan ditenagai oleh mesin. Perubahan dengan cepat terjadi setelah peralatan mesin juga berkembang dengan pesat terutama mesin produksi.

Revolusi Industri yang terjadi di Inggris memiliki tahap-tahap produksi sebagai berikut.  Pertama, dikenal dengan  home industry atau  domestic System di mana produksi dikerjakan di dalam rumah pekerja dengan peralatan sendiri. Kedua, tahap industri manufaktur dengan menggunakan lokasi tertentu sebagai tempat bekerja sekaligus sebagai tempat penjualan produksi. Biasanya dikerjakan oleh sepuluh orang. Ketiga, dikenal dengan factory system atau digunakannya tenaga mesin dengan jumlah pekerja yang banyak.

Permasalahan mulai muncul saat industri berkembang secara besar-besaran tanpa didukung oleh lokasi pemasaran yang memadai. Kamu tentu bisa menduga apa yang harus dikerjakan oleh negara-negara industri tersebut. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan lokasi baru sebagai tempat pemasaran bagi seluruh produknya. Ada beberapa dampak dari revolusi industri antara lain munculnya industri besar-besaran, terbentuknya golongan borjuis dan buruh, menguatnya arus urbanisasi, serta munculnya kapitalisme modern.

  1. Kapitalisme

Kapitalisme bisa dipahami sebagai sebuah ideologi yang mengagungkan kapital atau modal milik perorangan atau mili kelompok kecil masyarakat sebagai alat penggerak kesejahteraan manusia. Modal di sini bisa meliputi kekayaan dalam segala jenisnya termasuk barang-barang yang digunakan dalam produksi barang lainnya. Semua yang ada di dunia harus dijadikan kapital perorangan atau kelompok kecil orang untuk memperoleh keutungan. Caranya adalah dengan menerapkan sistem kerja upahan di mana buruh diperas, ditindas, dan diisap oleh kaum kapitalis.

Tokoh utama kapitalisme adalah Adam Smith yang mengemukakan teorinya The Wealth of Nations. Isinya antara lain menyatakan bahwa kemakmuran bangsa-bangsa akan tercapai melalui ekonomi persaingan bebas atau ekonomi yang bebas dari campur tangan negara. Sistem kapitalisme mulai berkembang di Inggris abad XVIII M dan meluas hingga kawasan Eropa Barat dan Amerika Utara. Ada tiga prinsip dasar kapitalisme yaitu kebebasan individu, kepentingan diri, dan pasar bebas. Dengan kebebasan individu maka manusia bebas berpikir, berkarya, dan berproduksi untuk kepentingan kelangsungan hidupnya.

 

Baca Artikel Lainnya: