Pupuk Kandang Cair
Umum

Pupuk Kandang Cair

Pupuk Kandang Cair

Pupuk Kandang Cair

Pengertian pupuk kandang cair merupakan pupuk kandang berbentuk cair yang asalnya dari kotoran ternak dengan keadaan masih segar yang bercampur dengan urine ternak atau kotoran ternak yang dilarutkan dalam air dengan perbandingan tertentu. Umumnya, urine hewan yang dimanfaatkan sebagai campuran kotoran hewan tersebut adalah urine babi, kambing, kerbau, kuda, dan sapi. Pembuatan pupuk kandang cair dilakukan dengan memasukkan kotoran ternak segar di dalam karung yang terbuat dari serat jerami yang telah diikat. Selanjutnya, karung yang berisi jenis pupuk kandang tersebut diikat pada tongkat dengan tujuan menggantung karung pada drum yang telah disediakan dan direndam pada drum yang telah diisi air di dalamnya. Lalu, melakukan pengadukan sekali setiap tiga hari denan menaik turunkan kotoran ternak yang direndam. Biasanya, hal itu dilakukan selama kurun waktu dua minggu.

Penggunan pupuk pada tanaman dilakukan apabila air rendaman pupuk kandang tersebut sudah tidak lagi memiliki bau menyengat serta telah terjadi perubahan warna menjadi coklat (Hartatik & Widowati, 2006). Matarirano (1994) menambahkan bahwa pemupukan dengan pupuk kandang cair dilakukan dengan melakukan penyiraman ke tanah di bagian perakaran tanaman. Selanjutnya, ampas dari pupuk kandang air tersebut dapat dimanfaatkan sebagai mulsa.

Kandungan unsur hara yang terdapat pada jenis pupuk kandang cair dari beberapa jenis ternak dapat dilihat pada tabel di bawah ini (Affandi, 2008).

Pupuk organik memiliki jenis-jenis yang berbeda untuk digunakan pada tanaman kehutanan. Biasanya, jenis-jenis pupuk organik terdiri dari 3 jenis yakni pupuk kandang, pupuk hijau, dan kompos.

B. Pupuk Hijau

Pupuk hijau merupakan salah satu pupuk organik yang berasal dari tanaman atau tumbuhan atau merupakan sisa panen. Keberadaan pupuk hijau sudah sangat lama dikenal oleh para petani pada umumnya. Hal ini dikarenakan pupuk hijau sering digunakan pada saat melakukan budidaya pertanian. Penggunaan pupuk hijau tidak hanya digunakan apabila adanya kekurangan pupuk kandang. Namun, pupuk hijau juga sering digunakan oleh peladang/petani dengan meletakkan sisa panen di sekitar tanaman yang diolah.

Biasanya, sisa panen tersebut akan dibiarkan membusuk dan mengalami dekomposisi di bawah tanaman. Sama halnya dengan pupuk kandang, pupuk hijau juga digunakan dengan maksud meningkatkan kandungan bahan organik serta unsur hara yang terdapat di dalam tanah sehingga adanya perbaikan sifat fisik, sifat kimia, dan sifat biologi tanah (Hartatik & Widowati, 2006). Searah dengan hal itu, Arsyad et al (2011) juga mengatakan bahwa pupuk hijau berfungsi sebagai sumber dan penyangga unsur hara melalui proses dekomposisi dan peranannya terhadap penyedia bahan organik tanah dan mikroorganisme tanah.

Beberapa kriterian tanaman yang akan dijadikan pupuk hijau harus memenuhi beberapa syarat yaitu:
  1. Cepat tumbuh dan banyak menghasilkan bahan hijauan.
  2. Sukulen, tidak banyak mengandung kayu.
  3. Banyak mengandung N.
  4. ahan kekeringan.
Sejalan dengan kriteria tanaman yang akan dijadikan sebagai pupuk hijau, Rachman et al. (2006) juga mengatakan kriteria sebagai berikut:
  1. Kandungan suatu bahan tanaman kering
  2. Memiliki kandungan humus total dan yang mudah dimineralisasi
  3. Memiliki kandungan N yang dapat dimanfaatkan secara cepat (quick acting),
  4. C/N rasio
  5. Memperhatikan tingkat kandungan bahan-bahan berbahaya bagi pertumbuhan tanaman
  6. Kualitas hasil tanaman terutama unsur-unsur logam berat harus di bawah ambang batas yang sudah ditentukan
  7. idak mengandung senyawa yang bersifat allelopati terhadap tanaman utama.

Pupuk hijau dapat diperoleh dari berbagai sumber. Menurut Rachman et al. (2006) sumber perolehan pupuk hijau terbagi menjadi 6 bagian yakni azolla, sesbania rostrata, sisa tanaman, tanaman pagar, tanaman penutup tanah, dan tumbuhan liar.

POS-POS TERBARU