Pendidikan

Rukun dan Syarat Muzara’ah

Rukun dan Syarat Muzara’ah

Jumhur ulama menetapkan rukun muzara’ah adalah

  1. Aqid, yaitu pemilik tanah dan penggarap
  2. Ma’qud alaih (objek aqad) yaitu manfaat tanah dan pekerjaan
  3. Ijab qobul

Menurut ulama Hanabilah akad Muzara’ah tidak memerlukan qabul secara lisan, tetapi dengan perbuatan yaitu dengan mengerjakan tanah yang menjadi objek akad. Hal ini dapat dianggap sebagai qabul.

Syarat-syarat Muzara’ah, menurut jumhur ulama sebagai berikut:

  1. Syarat yang menyangkut orang yang berakad: keduanya harus sudah balig dan berakal.
  2. Syarat yang menyangkut benih yang akan ditanam harus jelas, sehingga benih yang akan ditanam itu jelas dan akan menghasilkan.
  3. Syarat yang menyangkut tanah pertanian sebagai berikut:

Menurut Abu Yusuf dan Muhammad (dua sahabat Abu Hanifah), muzara’ah mempunyai empat keadaan, tiga sahih dan satu batal.

  1. Dibolehkan muzara’ah jika tanah dan benih berasal dari pemilik, sedang pekerjaan dan alat penggarap berasal dari penggarap
  2.  Dibolehkan muzara’ah jika tanah dari seseorang, sedangkan benih, alat penggarap, dan pekerjaan dari penggarap.
  3. Dibolehkan muzara’ah jika tanah, benih, dan alat penggarap berasal dari pemilik, sedang pekerjaan berasal dari penggarap.
  4. Muzara’ah tidak boleh jika tanah dan alat penggarap berasal dari pemilik tanah, sedang benih dan pekerjaan dari penggarap.
  1.  Hal yang Menyebabkan akad muzara’ah berakhir
  2. Habis masa akad muzara’ah, akan tetapi jika waktu habis namun belum layak panen, maka akad ini tidak batal melainkan tetap dilanjutkan hingga panen dan hasilnya dibagi sesuai kesepakatan.
  3.  Salah seorang yang akad meninggal, menurut ulama Syafiiyah, akad ini tidak dianggap berakhir dengan keadaan ini.
  4.  Adanya uzur, menurut Hanafiyah di antara uzur yang menyebabkan batalnya muzara’ah antara lain:
  5. Tanah garapan terpaksadijual, misalnya untuk membayar hutang
  6.  Penggarap tidak dapat mengelola tanah, seperti sakit, jihad di jalan Allah SWT dan sebagainya.