Sains modern dan al-qur’an menuju rekonstruksi teologi sosial dan kajian Teologi

Sains modern dan al-qur’an menuju rekonstruksi teologi sosial dan kajian Teologi

Sains modern dan al-qur’an menuju rekonstruksi teologi sosial dan kajian Teologi

Sains modern dan al-qur’an menuju rekonstruksi teologi sosial dan kajian Teologi
Sains modern dan al-qur’an menuju rekonstruksi teologi sosial dan kajian Teologi

Penjelasan

Al-Qur’an merupakan objek pembahasan sains dikalangan muslim yang melahirkan ilmu kalam. Kelahiran ilmu ini berpangkal pada kerangka pemikiran (logika) deduktif dari teks al-qur’an, yang berada ditengah-tengah perbedaan tajam antara pemikiran yang meletakkan alquran sebagai makhluk (empirisisme klasik) dan pemikiran yang diletakkan pada logika bahwa alqur’an bukan makhluk (normativisme klasik). Teologi lahir dari kenyataan empirik yakni pembunuhan politik yang membentuk situasi pada saat itu dikaitkan dengan teks al-qur’an. Teks alqur’an dalam kesadaran modern berbeda dengan interpretasi klasik, karena penafsiran terhadap alqur’an pada hakekatnya merupakan penyingkapan sebuah maksud yang lebih substansial dalam menjembatani distansi dan perbedaan-perbedaan realitas budaya.

Al-qur’an dilihat dari susunan bahasanya sebenarnya sebagai sebuah pengungkapan makna substansi ajaran dari Allah tetapi dipergunakan susunan bahasa yang dimengerti oleh masyarakat arab yang bersifat relatif dan sederhana situasi pada saat itu. Proses penafsiran ilmiayah yang dari teks ke realitas sosial tidak dapat dilepaskan dari proses berteologi dibantu dengan ilmu atau sains modern. Hubungan teologi dengan sains dilihat dalam kerangka distingsi (antara dunia manusiawi dengan dunia illahi). Dengan kata lain berteologi adalah suatu proses penafsiran yang datang dari kesadaran yang bercorak apriori sehingga mampu menalarkan secara empirik dan konkrit dalam situasi kemanusiaan yang ada.

Teologi sebagai ilmu yang membahas soal ketuhanan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap tuhan, memakai akal dan wahyu dalam proses pengetahuan tentang kedua soal tersebut. Akal sebagai daya berpikir yang ada dalam diri manusia, berusaha keras untuk sampai kepada diri tuhan, dan wahyu sebagai pengkhabaran dari alam metafisika turun kepada manjusia dengan keterangan tentang tuhan dan kewajiban manusia terhadap tuhan.

Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, dengan memberikan fitrah untuk berma’rifatullah ( mengenal allah). Seperti yang terkandung pada ayat al-qur’an dalam surat Ar-rum ayat 30. yang artinya: itulah fitrah allah yang telah Dia ciptakan manusia atas dasar fitrah itu dan tidak mungkin mengalami perubahan bagi Allah.
Selaras dengan penjelasan sebelumnya bahwa tauhid kepada allah sebagai pengaruh mutlak dan berperan besar dalam pembinaan umat manusia. Karena itu alqur’an menyampaikannya dengan ungkapan yang beragam sehingga dapat dipahami secara benar. Diantaranya ialah bahwa setiap kejadian dialam ini terwujud dengan izin, masyi’ah, kehendak, qodho, qodar dan keadilan allah.

Kajian Teologi

1. Akal dan Wahyu

Akal dan Wahyu merupakan dasar dan menjadi tolak ukur dalam menganalisa dan menilai setiap persoalan kalam. Dalam teologi islam, akal dan wahyu dihubungkan dengan persoalan mengetahui Tuhan dsan persoalan baik dan jahat. Persoalan pertama berkembang menjadi mengetahui Tuhan dan wajibnya mengetahui Tuhan. Persoalan kedua berkembang menjadi mengetahui baik dan jahat dan mengetahui wajib mengerjakan yang baik dan menjauhi yang jahat.

2. Iman Dan Kufur

Iman dan kufur adalah dua istilah yang berlainan. Bila iman diartikan dengan kepercayaan, kufur berarti ketidakpercayaa. Dalam Alqaran kata iman dan kufur cukup banyak dijumpai dan sebagian ayat itu menunjukkan tanda apakah seorang itu sudah beriman dengan benara atau tidak. Yang ditekankan dalam pembahasan ini adalah bukan kepada siapa yang beriman dan siapa yang tidak beriman. Tetapi ditekankan kepada apa konsep iman bagi masing-masing mazhab teologi islam.

3. Sifat-Sifat Tuhan

Dalam berbagai buku tentang teologi islam, pembicaraan tentang sifat-sifat Tuhan banyak melibatkan aliran Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan Maturdiniyyah. Perbedaan pendapat antara aliran tersebut sangat tajam. Di satu sisi, Mu’tazilah mengatakan bahwa Tuhan tidak bersifat.Di sisi lain, Asy’ariyah dan Maturdiniyyah mengatakan bahwa Tuhan niscaya bersifat.

4. Perbuatan Allah dan Perbuatan Manusia

Umat islam meyakini bahwa alam ini adalah ciptaan tuhan. keyakinan ini merupakan suatu penjelmaan dari ketundukan manusia kepada tuhan bahwa tiada pencipta selain allah (la khaliqa illa Allah). Semua ini ada hanya karena dia. Perenyataan ini menunjukkan bahwa Allah mahakuasa. Dia juga maha kuasa dalam berkehendak dalam melaksanakan perbuatan manusia. Namun disisi lain, manusia juga mempunyai kehendak dan kemampuan untuk mewujudkan perbuatannya sendiri.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/