Sejarah Teologi Islam Terlengkap

Sejarah Teologi Islam Terlengkap

Sejarah Teologi Islam Terlengkap

Sejarah Teologi Islam Terlengkap
Sejarah Teologi Islam Terlengkap

Sejarah Teologi Islam

Pada awalnya nabi dan umat islam memahami al-Qur’an sebagai ”Paradigma moral etik”, yang ditujukan untuk kebutuhan praktis dalam rangka membangun masyarakat yang bermoral, mengabdi pada nilai-nilai kebenaran dan keadilan (rahman, 1979:85). Pemahaman terhadap al- Qur’an yang seperti itu terus berlanjut, sampai masuknya hellenisasi dalam dunia islam. Meskipun demikian,pada masa sesudah nabi,perlahan-lahan telah terjadi pergeseran aksentuasi ke arah lahan politik, yang mencapai klimaknya sehubungan dengan persoalan kholifah dan peristiwa pembunuhan politik kholifah dengan segala rentetannya. Sejak peristiwa inilah, kalamullah (firman allah) menjadi alat justifikasi dalam melegitimasi keputusan-keputusan, bukannya badan arbitrase tentang problema kemanusiaan yang ada.

Pembunuhan Politik

Pembunuhan politik terhadap usman merupakan perselisihan yang berlarut-larut, bahkan menjadi pemicu perang saudara sesama muslim. Kejadian ini menimbulkan penilaian yang saling bertentengan tentang berbagai persoalan, tergantung sudut atau kepentingan masing-masing. Penilaian tersebut terfokus pada perbuatan dosa sebagai akibat “pembunuhan pollitik, yang dapat diklasifikasikan kedalam dosa besar, dosa kecil dan kafir. Wajar saja bila kemudian persoalan-persoalan ini memenuhi wacana keislaman dalam berbagai buku keagamaan saat itu. Pada gilirannya, timbul permasalahan yang mengambil bentuk pertanyaan, “ dari manakah sumber perbuatan manusia, tuhankah atau manusia itu sendiri?” Dari sini, lahirlah golonagan jabariyah dan Qodariyah. Keseluruhan ilustrasi tersebut merupakan faktor-faotor yang melahirkan ilmu kalam, yang semula di bangun oleh dua sekte yang ekstrem, yaitu syi’ah dan Khawarij.

Awal Abad

Kemudian pada awal abad VIII M., pemikiran teologi mengalami proses “pembaratan” lewat hellenisasi didalam proses ini, daullah Abbasiyah menjadi tempat pertemuan pertama antara islam dengan barat. Dengan demikian filsafat yunani mulai dipergiunakan sebagai landasan pemikiran dalam pembahasan dogma islam, yang pada awalnya dielaborasiakan dalam ilmu kalam. Semenjak masa inilah pemikiran yunani mempengaruhi sebagian besar pemikiran dunia islam terkemuka.
Dalam upaya melihat perspektif teologi islam masa kini,hal ini dapat diuji lewat beberapa fenomena yang dihadapi oleh kaum muslimin sebelum dan sesudah proses hellenisasi. pertama, dari aspek bahan baku pembentuk teologi ( pra abad VIII M). Dari sisi ini terlihat bahwa peristiwa politik yang empirit dan konkrit merupakan bahan ramuan bagi penemuan teologi, yang kemudian didialogkan dengan al-qur’an, sehingga teologi menemukan posturnya yang khas yakni kalam. Namun trend itu telah berubah menjadi lebih supraempirit dan metafisik serta logika sentris, karena pengaruh hellenisasi. Kecenderungan baru yang demikian mewarnai pemikiran islam yang bercorak logosentris hingga kini berdampak menimbulkan ketegangan terus-menerus antara kecenderunagan tradisionalis dan esoterik.

Kedua, dari segi terminologis, awalnya terdapat integralisme al-qur’an yang digambarkan dan dilihat dari hipostatika yang terdiri dari ad-din (syara’) dan kalam (teologi). Perkembangan kalam menjadi ushuluddin, ilmu tauhid, ilmu aqidah dan ilmu syari’ah dilain pihak, secara tajam mengandung pemikiran-pemikiran yang dengan paradigmanya masing-masing, melahirkan kesimpulan yang kontradiktif dan antagonistik.

Kesimpulan

Terakhir, dari sudut ilmu objek teologi memiliki keterkaitan terhadap peristiwa-peristiwa kemasyarakatan yang konkrit (peristiwa pembunuhan politi).peristiwa ini kemudian ditransformasikan kedalam al-Qur’an. Oleh karena itu, teologi berangkat dari kenyataan empirik. Begitu hellenisasi berlangsung berkembanglah fenomena yang berbeda. Sementara itu teologi mengalami marginalisi dari urusan praktis dan konkret keurusan metafisik.

Baca Juga: