Pendidikan

Tata Bahasa Indonesia yang seharusnya digunakan dalam Media Massa

Tata Bahasa Indonesia yang seharusnya digunakan dalam Media Massa

Dalam penulisan media massa digunakan bahasa jurnalistik. Bahasa jurnalistik merupakan bahasa yang digunakan oleh wartawan (jurnalis) dalam menulis karya-karya jurnalistik di media massa (Anwar, 1991). Dengan demikian, bahasa Indonesia pada karya-karya jurnalistiklah yang bisa dikategorikan sebagai bahasa jurnalistik atau bahasa pers.

KarakteristikBahasa di Media

  1. Stigmatisasi atau penjulukan

Stigmatisasi atau pelabelan yakni suatu sebutan yang diberikan oleh media kepada seseorang atau sekelompok orang yang menyebutnya dan sebutan tersebut mempunyai makna negatif.

Contoh:

(1)   Jaksa, hakim, dan pengacara Andi Kosasih menduga Faber T.B. silalahi memberi keterangan palsu soal rekayasa uang RP 28 miliar terdakwah mafia pajak, Gayus Tambunan…(Tempo, 6/10/10, “ Kejaksaan: Cyrus Sinaga Tak Terindikasi Pidana”). Kata mafia pajak adalah stigma/julukan yang berarti orang yang melakukan penggelapan/penjahat pajak.

(2)   Korban Lumpur Lapindo Menolak Pindah (Tempo, 6/10/10, “Korban Lumpur Lapindo Menolak Pindah”).

(3)   …menjadi tanggung jawab pemerintah lewat Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo…( Tempo, 6/10/10, “Korban Lumpur Lapindo Menolak Pindah”).

(4)   Tim berjulukan BeruangMadu itu menurunkan duet Aldo Barreto asal Paraguay dan Khairul Amri dari Singapura…(Tempo, 6/10/10, “Rivalitas Pemain Asing”).

(5)   Pemain mungil Argentina berusia 23 tahun itu juga diganjar premi di Stefano sebagai pemain terbaik La Liga untuk dua musim berturut-turut (Tempo, 6/10/10, “Messi Terima Trofeo Pichichi”).

  1. Majas

Dalam bahasa juranalistik banyak menggunakan majas/gaya bahasa seperti:

  1. Eufisme (penghalusan)

Contoh:

(1)   Tony, yang kini menjabat staf Ahli Bupati Bekasi, dijebloskan ke lembaga permasyarakatan Bulak Kapa, Bekasi, kemarin sore setelah menjalani pemeriksaaan marathon hamper sehari penuh (Tempo, 6/10/10, “Mantan Kepala Dinas Pendidikan Bekasi Ditahan”).

  1. Disfemisme (pengerasan)

Contoh:

(1)   Mereka yang masih mendekam di balik jeruji adalah Aleks Wetapo, 35 tahun dan Oto Wetapo, 33 tahun… (Tempo, 6/10/10, “Pemerintah Nyatakan Kasus Wamena Selesai”). Kata jeruji merupakan disfemisme dari kata penjara.

  1. Metafora (perumpamaan)

Contoh:

(1)   …hubungan Jakarta-Den Haag yang memang rawan retak. ”Seperti berjalan di atas kulit telur”…(Tempo, 6/10/10, “DPR Dukung Sikap Presiden”). Yang bercetak miring adalah contoh dari majas metafora.

(2)   “Bagaimana mendapatkan hakim kredibel kalau tidak jemput bola…(Tempo. 6/10/10,

 

sumber :

 

https://www.disdikbud.lampungprov.go.id/projec2014/seva-mobil-bekas/