Pendidikan

UPAYA PREVENTIF DAN PENGONTROLANNYA

UPAYA PREVENTIF DAN PENGONTROLANNYA

Bunuh diri merupakan gejala personal juga merupakan gejala sosial yang kompleks. Pada saat masa-masa krisis dan sulit serta menghadapi ancaman bahaya besar, jarang sekali orang-orang melakukan tindakan bunuh diri. Berbeda dengan masa-masa dimana seseorang penuh kejayaan dan kemakmuran, dengan berbagai macam fasilitas dan kenikmatan hidup,  justru banyak orang muda yang putus asa dan melakukan bunuh diri: yaitu didorong oleh rasa kejemuan dan kekosongan jiwa pada masa kemakmuran. Hal ini mengindikasikan, bahwa gairah hidup dan semangat mempertahankan diri pada kelompok disaat-saat kritis itu benar-benar menyerap segenap energy dan potensi individu untuk tetap bertahan hidup disaat-saat yang sangat sulit.

Sekalipun trauma atau kepedihan mental bisa mendorong seseorang melakukan perbuatan bunuh diri, namun sumbernya terletak pada kondisi disorganisasi sosial, yang pada saatnya akan menyebabkan disorganisasi personal. Disorganisasi sosial ialah Proses memudarnya atau melemahnya norma-norma dan nilai-nilai
sosial  dalam masyarakat karena adanya perubahan sosial dan budaya. Perubahan yang serba cepat ini disebabkan oleh proses urbanisasi, industrialisasi, mekanisasi dan teknologi canggih, mengakibatkan banyak ketidakstabilan. Kejadian ini menimbulkan rasa kesepian, ketakutan, kecemasan, kebingungan, kekacauan fikir, dll. Dan dalam keputusasaan orang melakukan bunuh diri membuktikan, bahwa ada korelasi akrab antara tingginya angka bunuh diri dengan disorganisasi sosial.

Motif-motif Bunuh Diri

Motif seseorang bunuh diri bervariasi, misalnya karena rasa kehilangan kehormatan, runtuhnya posisi sosial, hapusnya kebebasan berdiri, kegagalan bercinta, rasa aib dan malu besar, kesulitan dalam relasi seksual yang kronis, serta masih banyak lagi.

Namun, ada satu faktor penyebab saja, yang mendorong orang bisa melakukan tindakan bunuh diri, adanya permusuhan diri yang sudah didahului oleh frustasi-frustasi berat dan konflik-konflik emosional yang sangat parah, sehingga mempercepat keinginan orang untuk melakukan perbuatan bunuh diri. Ketakutan asasi dalam kehidupan kejiwaan yang sering mengusik ketenangan batin dan banyak menimbulkan stress dan konflik batin ialah : ketakutan, kecemasan, dendam, benci, nafsu membalas, agresivitas, dan rasa berdosa/bersalah. Krisis pribadi dan Krisis sosial di tengah masyarakat turut memperkuat keinginan orang untuk melarikan diri dari realitas hidup yang dirasakan seperti tidak bertanggung jawab; lalu orang melakukan bunuh diri.

Ringkasnya bunuh diri disebabkan oleh bertemunya dua faktor yang saling mempengaruhi, yaitu :

  1. ketidakstabilan/ ketidaksehatan mental, konflik-konflik emosional, kelicikan dan kelemahan pribadi, tidak berani menghadapi tantangan kesulitan hidup (banyak tendens melarikan diri), depresi organic, dan ketidakimbangan antara dorongan hidup melawan hasrat ketergantungan infantile si penderita;
  2. dan oleh bentuk-bentuk disorganisasi-disintegrasi sosial ditengah masyarakat, yang pada saatnya akan memprousir disorganisasi-disintegrasi personal pada perorangan.
  3. CARA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN

Untuk mengurangi kasus bunuh diri, mencegah, dan menyembuhkan para penderita yang telah gagal melakukan bunuh diri, disarankan agar pemerintah dan masyarakat dapat melakukan kegiatan sebagai berikut :

  1. Mendirikan Pusat Studi tentang pencegahan Bunuh diri  dibawah naungan Lembaga Hygiene Mental ; gerakan disiplin ilmu multi disipliner yang disebut SUICIDOLOGY- studi humani dan ilmiah mengenai destruksi –diri pada pribadi manusia- yang memberikan training khusus untuk menangani masalah bunuh diri.
  2. Pemerintah dan masyarakat diharapkan memberikan lebih banyak jaminan keamanan dan jaminan social kepada anak-anak dan semua warga Negara, agar mereka terlindung dan sehat mentalnya; sehingga bisa bebas mengaktualisasikan diri secara aktif, untuk menegakkan martabat dirinya.
  3. Secepat mungkin melakukan restaurasi pada pola-pola kelembagaan formal yang cukup berwibawa, dan sesuai dengan tuntutan hidup modern. “wibawa” dalam pengertian bisa menegakkan standar, moralitas, dan disiplin nasional, norma-norma, dan nilai-nilai hidup baik/benar, yang dipatuhi orang banyak; dan mampu mengontrol serta mengatur perilaku warga masyarakat dalam tata hidup yang hygienis secara mental dan social.
  4. Dianjurkan agar organisasi-organisasi kemasyarakatan lebih banyak memberikan penekanan pada pembentukan kontak-kontak social lebih akrab.
  5. Memberikan lebih banyak bimbingan psikologis untuk memupuk integritas psikologis/ kejiwaan.
  6. Memberikan bimbingan psikologis psikiatris kepada orang-orang yang mempunyai kecenderungan untuk melakukan perbuatan bunuh diri,
  7. a)Memperkuat inegrasi kejiwaan dan
  8. b)Memperlancar fungsi-egonya untuk mengikuti jalan hidup yang sehat.
  1. HASIL SURVEI KASUS BUNUH DIRI

 

  1. a)Survei peringkat kasus bunuh diri tertinggi di seluruh dunia

Menurut versi okezone.com – korea selatan , jepang dan belgia merupakan tiga Negara yang memiliki angka bunuh diri terbesar di dunia. Di antara negara berkembang, Korea Selatan dan Jepang merupakan negara dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia. Rata-rata dari 100.000 orang, sebanyak 24,8 melakukan bunuh diri, sementara Jepang sebanyak 24. Diikuti Belgia 21,3 dan Finlandia 20,35. Di Amerika Serikat, terdapat 11,1 orang yang melakukan bunuh diri di antara 100.000.

Seorang ahli kejiwaan Hong Kong Paul Yip menyatakan, sejak krisis finansial tahun lalu, pasien yang mengunjungi kliniknya meningkat drastis, dan permasalahan mereka rata-rata sama, yaitu masalah ekonomi.

sumber ;

https://avenuedjazz.com/vikings-apk/